Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Catatan

ABBAS: Ruang Belajar Agama untuk Bapak-Bapak di Sepinggan

57
×

ABBAS: Ruang Belajar Agama untuk Bapak-Bapak di Sepinggan

Sebarkan artikel ini
Kajian rutin fiqih. (Foto: Redaksi)

Example 300x600

Oleh: Bono Irawan

Di sebuah sudut sederhana di belakang Pasar Sepinggan, setiap bulan dua kali suasana berbeda terasa. Tempat itu bukan sekadar ruang berkumpul, melainkan wadah para bapak-bapak untuk menambah bekal ilmu agama. Mereka datang bukan hanya untuk mendengar, tetapi juga untuk memperdalam pemahaman tentang tata cara Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Kajian yang dikenal dengan nama Akademi Abi Sholih dan Cerdas (ABBAS) ini menjadi ruang khusus bagi ikhwan atau laki-laki. Dipandu oleh ustaz muda, Agus Khoirul Huda, Lc., kajian rutin ini berlangsung pada minggu pertama dan ketiga setiap bulannya.

Materi yang disampaikan bukan sekadar teori, melainkan hal-hal yang sangat dekat dengan keseharian. Mulai dari pembahasan fiqih ibadah, kewajiban-kewajiban yang mesti ditunaikan, hingga amalan sunnah yang sering kali terabaikan. “Bapak-bapak juga perlu pendalaman agama. Bukan hanya anak-anak muda yang harus belajar,” begitu pesan Ustaz Agus dalam salah satu pertemuannya.

Kehadiran kajian ABBAS menjadi penting karena banyak dari jamaah adalah kepala keluarga yang sehari-hari disibukkan dengan pekerjaan. Melalui forum ini, mereka mendapat kesempatan untuk sejenak menepi dari rutinitas, sekaligus meneguhkan kembali pondasi spiritual dalam rumah tangga.

Lebih dari sekadar kajian, ABBAS telah menjadi ruang silaturahmi. Para peserta saling mengenal lebih dekat, berbagi pengalaman, dan bersama-sama memperbaiki diri. Suasana yang hangat dan penuh kekeluargaan membuat banyak bapak merasa betah untuk terus hadir di setiap pertemuan.

Di setiap pertemuan, Ustaz Agus Khoirul Huda kerap mengingatkan pentingnya menjaga hubungan manusia dengan Tuhannya. Ibadah wajib seperti shalat lima waktu, puasa Ramadan, zakat, dan haji jika mampu adalah pilar utama yang tidak boleh ditinggalkan. Selain itu, amalan sunnah seperti shalat dhuha, qiyamul lail, dan memperbanyak doa juga menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah.

Tidak kalah penting, hubungan manusia dengan sesama manusia juga menjadi pokok kajian. Islam mengajarkan agar seorang muslim menjaga lisan, berbuat adil, serta menebar kebaikan di lingkungan sekitar. Hal-hal sederhana, seperti menyapa tetangga, menolong orang yang kesulitan, atau menghindari ghibah, merupakan bentuk nyata pengamalan ajaran agama.

Dalam kehidupan rumah tangga, seorang suami dituntut untuk menjadi pemimpin yang adil bagi keluarganya. Memberi nafkah halal, mendidik anak dengan nilai-nilai Islam, serta memperlakukan istri dengan kelembutan adalah bagian dari ibadah. Ustaz Agus menekankan bahwa rumah tangga yang harmonis akan menjadi ladang pahala, sekaligus benteng dari berbagai godaan dunia.

Amalan-amalan lain yang sering ditekankan dalam kajian ABBAS adalah menjaga kebersihan hati. Tidak iri, tidak sombong, serta ikhlas dalam beramal adalah kunci agar setiap ibadah diterima. “Agama bukan hanya soal ritual, tetapi juga bagaimana hati kita selalu terikat dengan Allah,” ujar sang ustaz dalam satu kesempatan.

Terakhir, para jamaah diingatkan untuk istiqamah. Ilmu yang didapat dalam kajian tidak boleh berhenti di ruang pertemuan saja, melainkan dibawa pulang dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan cara ini, seorang muslim diharapkan mampu menjadi pribadi yang taat kepada Allah sekaligus bermanfaat bagi sesama manusia.

Kajian ABBAS menjadi bukti sederhana bahwa semangat belajar agama tidak mengenal usia. Justru, semakin dewasa seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk memahami tuntunan hidup sesuai ajaran Islam. Dari ruang kecil di belakang pasar itulah, para bapak-bapak berusaha membangun keluarga yang lebih sholih, cerdas, dan diridhai Allah. (ek)