JAKARTA– Presiden Prabowo Subianto resmi merombak jajaran kabinetnya pada Senin, 8 September 2025. Salah satu keputusan paling mengejutkan adalah pencopotan Sri Mulyani Indrawati dari kursi Menteri Keuangan. Posisi strategis itu kini ditempati oleh Purbaya Yudhi Sadewa, mantan Kepala Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
Langkah ini dilakukan hanya beberapa hari setelah aksi demonstrasi besar-besaran yang mengguncang Jakarta dan kota-kota lain. Ribuan buruh dan mahasiswa turun ke jalan menolak kebijakan ekonomi dan fasilitas mewah bagi pejabat legislatif. Aksi tersebut menelan sedikitnya sepuluh korban jiwa, menandai eskalasi ketidakpuasan publik.
Dalam pidato pelantikannya, Purbaya tampil optimis. “Target pertumbuhan tujuh persen bukan batas. Delapan persen tidak mustahil, asal kita bersatu memperkuat sinergi antara pemerintah dan swasta,” ujarnya di Istana Negara. Keyakinan itu ia sampaikan di hadapan Presiden Prabowo dan jajaran kabinet yang baru saja dirombak.
Namun, langkah ini menimbulkan reaksi beragam. Pasar saham bereaksi negatif, dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 1,3%. Investor asing mencemaskan hilangnya figur Sri Mulyani yang selama ini dianggap simbol disiplin fiskal. Di sisi lain, rupiah justru menguat tajam, mencatat performa terbaik dalam dua bulan terakhir.
Analis ekonomi, Dwi Larasati, menilai reshuffle kali ini penuh risiko. “Purbaya memang dikenal berani dengan ide-ide besar. Tapi tanpa transparansi dan disiplin anggaran, janji pertumbuhan delapan persen bisa jadi sekadar retorika politik,” katanya.
Reshuffle ini kemudian dijuluki publik sebagai “Kabinet Murah Transparansi”, sindiran terhadap gaya kepemimpinan baru yang dinilai lebih populis, tetapi dipertanyakan dalam hal keterbukaan dan konsistensi kebijakan. (ah)








