Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Kaltim

Makan Bergizi Gratis di Kaltim: Mahulu Jadi Sorotan, Kenapa Paling Buncit?

63
×

Makan Bergizi Gratis di Kaltim: Mahulu Jadi Sorotan, Kenapa Paling Buncit?

Sebarkan artikel ini
Foto: Istimewa

Mahakam Ulu – Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang digadang-gadang sebagai salah satu program prioritas pemerintah, kini menjadi sorotan di Kalimantan Timur. Jika sembilan kabupaten/kota lain sudah mulai merasakan manfaatnya, satu-satunya daerah yang masih gigit jari adalah Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu). Hingga saat ini, program tersebut belum juga berjalan.

Example 300x600

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar di kalangan masyarakat. Mengapa Mahulu, yang dikenal sebagai kabupaten paling ujung dan terisolasi di Kaltim, justru belum bisa melaksanakannya?

“Kami sangat berharap program ini bisa segera berjalan. Anak-anak di sini juga butuh asupan gizi yang baik,” ujar Pak Udin, seorang tokoh masyarakat di Long Bagun. “Sudah ada sosialisasi, tapi sampai sekarang belum ada realisasinya,” tambahnya.

Menurut laporan dari berbagai instansi terkait, ada beberapa faktor utama yang menjadi penghambat. Salah satunya adalah tantangan geografis dan logistik yang ekstrem. Mahulu sebagian besar hanya bisa diakses melalui jalur sungai. Saat musim kemarau, air sungai surut, sementara saat musim hujan, arus sangat deras. Ini membuat pengiriman logistik bahan makanan menjadi sangat sulit dan mahal.

“Bahan makanan dari Samarinda atau Balikpapan harganya bisa naik dua sampai tiga kali lipat saat sampai di sini,” ungkap seorang pedagang di Ujoh Bilang. “Kalau anggaran per anak cuma Rp10.000, jelas tidak cukup untuk beli bahan yang layak,” jelasnya.

Selain masalah geografis, Mahulu juga masih menunggu petunjuk teknis (juknis) dari pemerintah pusat yang sesuai dengan kondisi daerahnya. Tanpa regulasi yang jelas, pemerintah daerah enggan mengambil risiko.

Merespons kondisi ini, pemerintah provinsi dan Badan Gizi Nasional (BGN) dikabarkan sedang mencari solusi. Opsi seperti membuat pusat logistik di daerah terdekat atau menyesuaikan menu makanan dengan bahan lokal sedang dikaji.

“Kami terus berkoordinasi dengan pemerintah Mahulu. Kami sadar kendalanya tidak mudah,” kata seorang perwakilan BGN. (ek)