Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Kaltim

Harga Dexlite Tembus Rp23.600, Petani Balikpapan Timur Minta Solar Subsidi Dibuka Lebih Luas

5
×

Harga Dexlite Tembus Rp23.600, Petani Balikpapan Timur Minta Solar Subsidi Dibuka Lebih Luas

Sebarkan artikel ini

Balikpapan — Senin, 20 April 2026, petani di Balikpapan Timur mengeluhkan lonjakan harga Dexlite yang kini disebut menekan biaya garap lahan mereka. Di tengah sulitnya akses solar subsidi, mereka terpaksa membeli BBM non-subsidi untuk menggerakkan mesin pertanian di kebun hortikultura.

Agus (36), petani di Gunung Binjai, Teritip, mengatakan kenaikan harga itu membuat modal operasional makin berat, apalagi ia menggarap lahan sekitar tiga hektare. Ia menuturkan, “Sekarang Rp100 ribu itu cuma dapat 4 liter lebih sedikit. Dipakai kerja saja tidak sampai satu hari penuh.”

Example 300x600

Menurut Agus, kebutuhan solar untuk menghidupkan mesin pertanian tidak bisa dikurangi begitu saja. Ia menyebut, untuk pekerjaan di kebun, mesin tetap membutuhkan sekitar 5–10 liter bahan bakar. “Soalnya butuhnya 5-10 liter. Itu sudah pasti. Mau BBM semahal apa pun, mesin tetap makan solar dengan jumlah yang sama, tidak jadi lebih irit,” katanya.

Agus menambahkan, kenaikan harga Dexlite dari sekitar Rp14.200 menjadi Rp23.600 per liter membuat ongkos produksi petani melonjak tajam. Situasi itu kian terasa berat bagi petani hortikultura karena komoditas seperti cabai, melon, dan sayuran punya masa simpan pendek sehingga tidak bisa disimpan terlalu lama untuk menunggu harga membaik.

“Kalau barang sembako mungkin bisa ditahan atau ditimbun. Kalau di pertanian tidak bisa. Barang banyak, ya harga pasti murah. Kami harus cepat jual karena kalau disimpan ya busuk,” ujar Agus.

Selain soal harga, Agus juga menyoroti distribusi solar subsidi di Balikpapan yang dinilainya belum merata. Ia menyebut dari kawasan Sepinggan hingga perbatasan Kutai Kartanegara, akses BBM subsidi di sejumlah SPBU sudah lama tak tersedia. Akibatnya, petani di Teritip seperti dipaksa menggunakan Dexlite karena pembelian solar subsidi memakai jerigen tidak diperbolehkan.

“Kalau kami harus mengantre ke Kilo (Balikpapan Utara), itu jaraknya jauh dan antrenya lama sekali. Bisa-bisa barang kami keburu busuk di jalan,” tambahnya.

Agus berharap Pemerintah Kota Balikpapan dan Pertamina memberi solusi konkret bagi petani di Balikpapan Timur. Menurut dia, ada dua langkah yang paling mungkin dilakukan, yakni menurunkan harga Dexlite atau memperluas distribusi solar subsidi hingga ke wilayah yang lebih dekat dengan sentra pertanian.

Ia juga mengusulkan adanya jalur khusus atau sistem verifikasi bagi petani agar akses BBM subsidi lebih mudah, sehingga biaya produksi tidak semakin menekan pendapatan. “Kami butuh uang untuk putaran modal lagi. Kalau maksa cari solar subsidi, habis makan waktu. Sementara Dexlite, aduh, terlalu mahal,” pungkasnya.