BALIKPAPAN — Sektor perhotelan di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, menunjukkan tren pemulihan yang signifikan pada triwulan pertama 2026. Dua megaproyek strategis — pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) Tahap II dan operasional penuh Kilang Pertamina — menjadi motor penggerak utama yang menyelamatkan bisnis akomodasi di kota penyangga ibu kota baru tersebut.
Berdasarkan Survei Perkembangan Properti Komersial yang dirilis Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Balikpapan, Indeks Harga Properti Komersial (IHPK) Balikpapan pada triwulan I-2026 tercatat berada pada level 105,70.
Angka ini menunjukkan penurunan tahunan (year-on-year/yoy) yang sangat tipis, yakni hanya sebesar 0,10 persen. Realisasi itu melandai secara dramatis dibandingkan triwulan IV-2025 yang sempat merosot hingga 0,36 persen (yoy) dengan posisi indeks 105,86.
Kepala Perwakilan BI Balikpapan, Robi Ariadi, mengungkapkan bahwa tertahannya laju kejatuhan harga properti komersial ini ditopang penuh oleh perbaikan performa di segmen perhotelan.
“Dua megaproyek tersebut beroperasi sebagai mesin penyerap ruang akomodasi yang konstan,” ujar Robi, dikutip Minggu (1/6/2026).
Okupansi Hotel Melonjak, Koreksi Harga Melandai
Data BI Balikpapan menunjukkan, koreksi harga sewa kamar hotel pada triwulan I-2026 melandai menjadi minus 3,63 persen (yoy). Realisasi ini membaik secara signifikan dibandingkan periode triwulan IV-2025 yang sempat terjerembap hingga minus 9,95 persen (yoy) akibat penurunan okupansi musiman.
Robi menjelaskan, akselerasi tingkat keterisian kamar dipengaruhi secara linear oleh tingginya mobilitas tenaga kerja ahli, pelaku usaha, dan pejabat negara yang keluar-masuk koridor Balikpapan—IKN.
Terdapat dua motor penggerak utama yang mendorong pemulihan ini. Pertama, proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang Pertamina Balikpapan yang kini sudah beroperasi penuh. Kedua, kelanjutan pengerjaan fisik tahap II pada Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN.
Kegiatan MICE dan Agenda Dinas Jadi Penopang
Selain akomodasi pekerja jangka panjang, arus kas perhotelan juga diselamatkan oleh tingginya frekuensi kegiatan Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) serta agenda dinas kementerian yang diselenggarakan di hotel-hotel lokal.
Sementara sektor perhotelan menikmati lonjakan pendapatan, harga properti di segmen ritel atau pusat perbelanjaan serta perkantoran di Balikpapan terpantau stabil dengan tren permintaan yang menguat.
Pemulihan sektor properti komersial ini menjadi sinyal positif bahwa aktivitas ekonomi di Balikpapan sebagai kota penyangga IKN terus bergeliat. Keberlanjutan proyek IKN Tahap II dan industri migas diproyeksikan akan terus menjadi katalis pertumbuhan bagi sektor jasa dan akomodasi di Kaltim.
Baca juga: DPMPTSP Sebut IKN Buka Peluang Investasi Baru di PPU, Target 2026 Capai Rp4,7 Triliun



