Nusantara – Wakil Menteri Agama RI, Muhammad Syafi’i, meninjau langsung progres pembangunan sejumlah rumah ibadah di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), baru-baru ini. Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan kesiapan sarana ibadah menjelang agenda-agenda besar keagamaan nasional dalam beberapa bulan ke depan.
Dalam peninjauan itu, Wamenag didampingi Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Timur, Abdul Khaliq, serta perwakilan Otorita IKN dan unsur Kementerian Pekerjaan Umum.
Salah satu fokus utama peninjauan adalah Masjid Negara IKN, yang diproyeksikan menjadi ikon syiar Islam di ibu kota baru. Wamenag menyebut kesiapan masjid sangat krusial karena pada hari kedua Ramadan 1447 Hijriah, Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, dijadwalkan melaksanakan salat tarawih sekaligus menyampaikan tausiyah di lokasi tersebut.
“Berdasarkan jawaban yang kami terima dari pihak Otorita, Masjid Negara pada tanggal tersebut sudah bisa digunakan sepenuhnya. Tinggal penyelesaian detail seperti pemasangan karpet dan penyiapan meubelair yang saat ini masih berproses. Artinya, pada 2 Ramadan insyaallah sudah siap,” ujar Wamenag optimistis.
Dari pantauan di lapangan, struktur utama bangunan telah rampung. Penyelesaian interior dan sarana penunjang kini menjadi prioritas agar masjid dapat difungsikan dengan nyaman bagi jamaah.
Selain masjid, rombongan juga meninjau pembangunan Gereja Basilika Nusantara, yang diproyeksikan menjadi pusat kegiatan umat Katolik di IKN. Gereja ini direncanakan menjadi tuan rumah Pertemuan Uskup se-Indonesia pada Mei mendatang.
Kepala Balai Penataan Bangunan, Prasarana, dan Kawasan Kaltim Kementerian PUPR, Efry Biaktama Meliala, melaporkan bahwa fasilitas utama, termasuk rumah uskup, ditargetkan dapat difungsikan paling lambat bulan depan.
Namun, terdapat perhatian khusus pada pemasangan lonceng dan salib yang didatangkan dari Belanda. Proses instalasi membutuhkan penanganan teknis khusus agar sesuai standar keamanan dan estetika bangunan.
“Yang menjadi perhatian adalah pemasangan lonceng dan salibnya karena material tersebut didatangkan dari Belanda. Tapi yang terpenting, agenda Pertemuan Uskup pada bulan kelima mendatang dapat terlaksana sesuai rencana,” jelasnya.
Tak hanya dua bangunan tersebut, pemerintah juga menyiapkan lahan bagi pembangunan rumah ibadah agama lain di kawasan IKN, seperti gereja Kristen, pura, vihara, hingga klenteng. Otorita IKN memastikan ketersediaan lahan, sementara proses pembangunan direncanakan dimulai tahun ini atau paling lambat 2027.
Menurut Wamenag, pembangunan rumah-rumah ibadah yang berdampingan di kawasan inti IKN menjadi simbol komitmen pemerintah dalam menghadirkan ruang ibadah yang inklusif dan representatif bagi seluruh umat beragama.
“Ini bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi wujud nyata komitmen negara dalam merawat keberagaman dan memperkuat moderasi beragama,” tegasnya.
Senada dengan itu, Abdul Khaliq menyatakan Kanwil Kemenag Kaltim siap mengawal proses transisi pengelolaan rumah ibadah di IKN serta memperkuat koordinasi teknis bersama Otorita IKN.
“Kami berkomitmen penuh mendukung koordinasi teknis di lapangan. Rumah ibadah yang berdampingan ini adalah simbol nyata harmoni dan kerukunan umat beragama di Ibu Kota Nusantara,” ujarnya.
Dengan progres yang terus dipacu, pemerintah berharap rumah-rumah ibadah di IKN tidak hanya menjadi pusat kegiatan keagamaan, tetapi juga ikon persatuan dan toleransi di ibu kota masa depan Indonesia. (ek)













