Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Catatan

Mencium Anak Kecil dalam Perspektif Syariat: Antara Kasih Sayang dan Adab

66
×

Mencium Anak Kecil dalam Perspektif Syariat: Antara Kasih Sayang dan Adab

Sebarkan artikel ini
Oknum Gus Elham Yahya yang mencium anak kecil di depan publik.

Oleh:: Haqqul Muqorrobin (Aliansi Santri Ndeso)

Example 300x600

Beberapa hari terakhir, publik ramai membincang isu pendakwah muda dari Kediri yang mencium anak kecil di pengajiannya. Publik kecewa atas perbuatan pendakwah yang tengah viral itu, karena dianggap tidak mencerminkan etika yang sepantasnya dilakukan pendakwah. Namun, sebenarnya bagaimana hukum mencium anak kecil menurut pandangan syariat?

Tulisan ini tidak bermaksud membela oknum yang salah, namun murni dalam rangka kajian ilmiah, supaya publik disuguhkan sudut pandang yang utuh. Berikut ini poin-poin mendasar yang perlu dipahami perihal isu mencium anak dalam pandangan syariat:

1. Nabi pernah mencium cucunya, Hasan bin Ali. Di sampingnya ada sahabat al-Aqra’ bin Habis yang bercerita bahwa dia memiliki 10 anak, tidak satupun pernahia cium. Lalu Nabi menegurnya, bahwa siapapun yang tidak berbelas kasih, tidak mendapat kasih sayang Allah. Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam bab “Kasih sayang kepada anak, menciumnya dan merangkulnya”, Imam Muslim dalam bab “Keutamaan-keutamaan”. Al-Imam al-Tirmidzi menilai hadits ini Hasan-Shahih. Di bawah ini redaksi teks haditsnya:

حَدَّثَنَا أَبُو اليمَانِ، أَخْبَرَنَا شُعَيْبُ، عَنِ الرُّهْرِيَّ، حَدَّثَنَا أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، أَن َّ أَبا هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ: قَبْلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَسَنَ بُنَ عَلَى وَعِنْدَهُ الْأَقْرَعُ بْنُ حَابِينِ التَّمِيمِيُّ جَالِسًا فَقَالَ الأَقْرَعُ إِنَّ لِي عَشَرَةً مِنَ الْوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ مِنْهُمُ أَحَدًا، فَنَظَر َ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ: مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمُ

Artinya “Bahwa sesungguhnya Abu Hurairah berkata, Nabi mencium al-Hasan bin Ali di samping Aqra’ bin Habis al-Tamimi yang sedang duduk. Lalu Aqra’ berkata, Sesungguhnya aku memiliki sepuluh anak, tidak satupun dari mereka pernah aku cium. Kemudian Nabi menatap Aqra’ lalu bersabda “Barang siapa tidak berbelas kasih, tidak diberi kasih sayang(Allah)”.

2. Dalam riwayat lain, Nabi mencium putrinya, Fathimah, demikian pula sahabatAbu Bakar mencium putrinya, Aisyah.Referensi: Syaikh Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari, juz.10, hal.427.

وتقدم في مناقب فاطمة عليها السلام أنه صلى الله عليه وسلم كان يقبلها وكذا كان أبو بكر يقبل ابنته عائشة

3. Dalam pandangan Syaikh Abul Hasan Ali bin Khalaf Ibni Bathal -ulama hadits terkemuka-, Mengekspresikan kasih sayang kepada anak kecil dengan caramerangkul dan mencium adalah tergolong amal perbuatan yang diridloi Allah dan diganjar pahala. Ibnu Bathal menyampaikan argumennya berdasarkan haditsnya Aqra’ bin Habis yang ditegur Nabi karena tidak pernah mencium 10 anaknya. Hadits ini menurut Ibnu Bathal menunjukan bahwa mencium anak kecil, menggendongnya dan memeluknya termasuk perbuatan mulia yang layak diganjar kasih sayang Allah.

Referensi: Syaikh Abul Hasan Ali bin Khalaf bin Bathal, Syarh Shahih al-Bukhari Li Ibni Bathal, juz.09, hal.211.

رحمة الولد الصغير ومعانقته وتقبيله والرفق به من الأعمال التي يرضاها الله ويجازى عليها، الا ترى قوله عليه السلام للأقرع بن حابس حين ذكر عند النبي أن له عشرة من الولد ماقبل منهم أحدا: (من لا يرحم لا يرحم) فدل أن تقبيل الولد الصغير وحملهوالتحفى به مما يستحق به رحمة الله

4. Masih menurut Ibnu Bathal -sebagaimana dikutip dalam kitab Fath al-Bari, mencium anggota tubuh anak kecil adalah boleh, demikian pula anak dewasa menurut mayoritas ulama asalkan bukan bagian aurat yang dicium.Referensi: Syaikh Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari, juz.10, hal.427.

قوله باب رحمة الولد وقبلته ومعانقته قال بن بطال يجوز تقبيل الولد الصغير في كل عضو منه وكذا الكبير عند أكثر العلماء مالم يكن عورة

5. Dalam pandangan ulama hadits yang sangat disegani, Syaikh Ibnu Hajar al-Asqalani, bahwa mencium anak kecil karena tujuan kasih sayang, bukan untuk pemenuhan hasrat seksual, adalah substansi yang terkandung dalam haditsnya Aqra’ bin Habis. Demikian pula ekspresi cinta yang lain semisal dengan merangkul, menempelkan badan dan lain sebagainya. Ekpresi cinta kepada anak kecil menurutnya tidak hanya berlaku untuk keluarga satu mahram, namun juga dapat diterapkan kepada anak selain mahram. Pendapat Ibnu Hajar al-Asqalani ini juga senada dengan yang disampaikan Syaikh al-Qasthalani dalam Kitab Irsyadus Sari, Syarah atas Shahih al-Bukhari.Referensi:

a) Syaikh Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari, juz.10, hal.430:

وفي جواب النبي صلى الله عليه وسلم للأقرع إشارة إلى أن تقبيل الولد وغيره من الأهل المحارم وغيرهم من الأجانب إنما يكون للشفقة والرحمة لا للذة والشهوة وكذا الضم والشم والمعانقة

b) Syaikh Ahmad bin Muhammad al-Qasthalani, Irsyad al-Sari, juz.17, hal.9:

وفي الحديث أن تقبيل الولد وغيره من المحارم وغيرهم إنما يكون للشفقة والرحمة لا للذة والشهوة وكذا الضم والشم والمعانقة

6. Dalam pandangan ulama fiqh, mencium anak kecil baik mahram atau non mahram dengan tujuan kasih sayang adalah diperbolehkan. Bahkan kebolehan mencium tersebut bukan hanya mencium pipi atau kening, namun berlaku juga dalam kasus mencium bibir/ mulut dan seluruh bentuk persentuhan kulit dengan catatan tidak menimbulkan syahwat dan yang disentuh bukan bagian aurat.

7. Ulama fiqh sepakat bahwa mencium, merangkul dan menyentuh badan anakkecil yang disertai syahwat adalah haram.

Referensi:

a) Syaikh Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj, juz.07, hal.202

b) Syaikh Abdul Hamid Al-Syirwani, juz.07, hal.202

وَفِي شَرْحِ مُسْلِمٍ يَحِلُّ مَسٌ رَأْسِ الْمَحْرَمِ وَغَيْرِهِ مِمَّا لَيْسَ بِعَوْرَةٍ إِجْمَاعًا أَنِّي حَيْثُ لَا شَهْوَةَ وَلَا خَوْفَ فِتْنَةٍ بِوَجْهِ سَوَاءُ أَمَسٌ لِجَاجَةٍ أَمْ شَفَقَةٍ

قَوْلُهُ يَحِلُّ مَسُ رَأْسِ الْمَحْرَمِ إِلَحْ أَي بَحَائِلٍ وَبِدُونِهِ اهع ش (قَوْلُهُ وَغَيْرِهِ أَي غَيْرِ الرَّأْسِ (قَوْلُهُ مِمَّا لَيْسَ بِعَوْرَةِ عِبَارَةً شَرْح الإِرْشَادِ يَحْرُمُ مَسُ سَاقِ أَوْ بَطْنِ مَحْرَمِهِ كَأْمِّهِ وَتَقْبِيلُهَا وَعَكْسُهُ بِلَا حَاجَةٍ وَلَا شَفَقَةٍ وَإِلَّا جَارٌ وَعَلَيْهِ يُحْمَلُ قَوْلُ شَرْجِ مُسْلِمِ يَجُوزُ بِالْإِجْمَاعِ مَسُ الْمَحَارِمِ فِي الرَّأْسِ وَغَيْرِهِ مِمَّا لَيْسَ بِعَوْرَةِ اهِ وَحَيْثُ جَازَ تَقْبِيلُ الْمَحْرَمِ هَلْ يَشْمَلُ تَقْبِيلَ الْقَمِ اه سم أَقُولُ قَضِيَّتُهُ إظْلَا قُهُمُ الشَّمُولَ

(قَوْلُهُ سَوَاءُ أَمَسٌ لِجَاجَةٍ أَمْ شَفَقَةٍ يَقْتَضِي ذَلِكَ عَدَمَ جَوَانِهِ عِنْدَ عَدَمِ الْقَصْدِ مَعَ انْتِقَائِهِمَا وَيَحْتَمِلُ جَوَازَهُ حِينَئِذٍ لِأَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَبْلَ فَاطِمَةَ وَقَبَّلَ الصَّدِّيقُ الصَّديقة اهنِهَايَةُ قَالَ عَ ش َ قَوْلُهُ وَيَحْتَمِلْ جَوَازَهُ أَي وَمَعَ ذَلِكَ فَالْمُعْتَمَدُ مَا قَدَّمَهُ مِنْ الْحُرْمَةِ عِنْدَ انْتِفَاءِ الحَاجَةِ وَالشَّفَقَةِ وَمَا وَقَعَ مِنْهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمِنْ الصَّدِّيقِ مَحْمُولُ عَلَى الشَّفَقَةِ اهِ وَيَظْهَرُ رُجْحَانُ مَا جَرَى عَلَيْهِ الْمُغْنِي مِنْ الجَوَانِ عِبَارَتُهُ وَالَّذِي يَنْبَنِي عَدَمُ الْحُرْمَةِ عِنْدَ عَدَمِ الْقَصْدِ وَقَدْ قَبْلَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاطِمَةَ وَقَبْلَالصديق الصديقة اهـ

8. Kegiatan mencium anak kecil di ruang publik merupakan perbuatan yang tidak terpuji, karena dapat mengundang kegaduhan dan su’uu zhan banyak pihak. Hendaknya bagi siapapun utamanya pendakwah menghindari perilaku yang dapat menimbulkan stigma negatif yang berakibat buruk kepada citra Islam itu sendiri. Terlebih dalam konteks hari ini, terdapat kesadaran bersama bahwasiapapun termasuk anak kecil memiliki otoritas atas tubuhnya sendiri, yang selayaknya dijaga martabatnya.

9. Dalam konteks adab bergaul, Islam juga mengajarkan kepada para pendakwah untuk memperhatikan norma-norma tradisi dan budaya bangsa, selain aspek syariat. Sebab, bila aspek tradisi ini diabaikan, justru mengakibatkan masyarakat semakin antipati kepada Islam, meski berjuta dalil telah dikemukakan.

Referensi: Imam al-Ghazali, Ihya Ulum al-Din, juz.02, hal.201:

ومنها أن يتقي مواضع التهم صيانة لقلوب الناس عن سوء الظن ولألسنتهم عن العيبة فإنهم إذا عصوا الله بذكره وكان هو السبب فيه كان شريكا قال الله تعالى ولا تسبوا الذي يدعون من دون الله فيسبوا الله عدوا بغير علم وقال صلى الله عليه وسلم كيف ترون من يسب أبويه فقالوا وهل من أحد يسب أبويه فقال نعم يسب أبوي غيره فيسبون أبويه … إلى أن قال … قال عمر رضي الله عنه من أقام نفسه مقام التهم فلا يلومن من أساء به الظن

10. Kritik atas kegiatan mencium anak kecil di ruang publik hendaknya dilakukan secara proporsional. Meski secara umum hal tersebut merupakan perbuatan yang tidak pantas dilakukan, namun ketika yang bersangkutan sudah meminta maaf dan tidak akan mengulanginya lagi, maka sebaiknya bukalah pintu maafselebar-lebarnya untuk mereka yang secara tulus bertekad memperbaiki diri.

Wallahu a’lam bishowab…