Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
CatatanUncategorized

Merah Putih di Bulan Agustus — Bukan Sekadar Kewajiban, Tapi Tanda Ingatan

63
×

Merah Putih di Bulan Agustus — Bukan Sekadar Kewajiban, Tapi Tanda Ingatan

Sebarkan artikel ini
Bendera merah putih makin marak menghisasi sudut kota. (Foto : Redaksi)

Oleh: Bono Irawan

Example 300x600

Bulan Agustus selalu membawa suasana berbeda. Langit terasa lebih biru, angin lebih tenang, dan di sepanjang jalan, bendera Merah Putih mulai berkibar satu per satu. Ada kebanggaan tersendiri saat melihat warna kebesaran bangsa itu melambai di halaman rumah, di depan sekolah, di kantor, hingga di tiang bambu sederhana yang dipasang warga di perkampungan.

Namun di balik semua itu, saya sering bertanya dalam hati: apakah semua orang masih benar-benar memahami mengapa kita mengibarkan bendera itu?

Banyak dari kita mungkin hanya melihat ini sebagai rutinitas tahunan. Sebuah kewajiban administratif menjelang 17 Agustus. Tapi, sejatinya, bendera Merah Putih bukanlah simbol biasa. Ia adalah saksi bisu dari sejarah panjang yang penuh darah, air mata, dan pengorbanan. Di masa lalu, untuk bisa mengibarkan bendera ini saja, orang harus bertaruh nyawa. Bendera itu dulu dikibarkan di tengah medan perang, di tengah tembakan dan serangan, dengan satu harapan: Indonesia bisa berdiri sendiri.

Saya terenyuh saat membaca kisah para pejuang yang menyelipkan bendera kecil di saku bajunya, menghindari mata penjajah. Mereka tahu risikonya, tapi mereka tetap melakukannya. Demi harga diri, demi kemerdekaan, demi merah putih. Maka, ketika kita yang hidup di zaman damai ini tidak mengibarkan bendera—bahkan hanya sekadar di halaman rumah—apakah kita tidak sedang mengkhianati semangat itu?

Mengibarkan bendera adalah cara paling sederhana untuk menghormati para pahlawan. Tidak perlu berdarah-darah. Tidak perlu berperang. Cukup dengan memasang bendera, berdiri sejenak, dan mengingat bahwa kemerdekaan yang kita nikmati hari ini tidak datang tiba-tiba. Ia diperjuangkan. Ia diwariskan. Dan tugas kita adalah menjaga serta menghargainya.

Saya bukan siapa-siapa. Hanya warga biasa. Tapi saya percaya, cinta pada tanah air dimulai dari hal kecil. Dari hati yang mau mengingat. Dari tangan yang rela memasang tiang bendera, walau hanya dari bambu. Dari rumah-rumah sederhana yang tetap menyempatkan diri untuk merah putih, meski tak punya banyak.

Bulan Agustus bukan sekadar bulan perayaan. Ini adalah bulan kontemplasi, bulan mengenang, bulan bersyukur. Maka, jangan biarkan tiang rumah kita kosong. Jangan biarkan halaman itu sepi. Jangan sampai Merah Putih kehilangan tempatnya—bukan karena dijatuhkan oleh penjajah, tapi karena dilupakan oleh anak negeri sendiri.

Karena kalau dulu mereka rela mati demi bendera itu, bukankah kita juga bisa setidaknya mengibarkannya dengan penuh hormat. (ek)