Oleh : Bono Irawan
Di tepi jalan, dekat sekolah, pasar, hingga sudut-sudut gang sempit di Kalimantan Timur, aroma bumbu kacang bercampur pedas tercium menggoda. Di atas gerobak sederhana, panci besar berisi bulatan putih mengepul hangat—itulah pentol atau salome, jajanan kaki lima yang tak pernah sepi peminat.
Pentol bukan sekadar camilan. Di Kalimantan Timur, makanan ini menjelma jadi pengganjal perut yang merakyat, murah, dan penuh kenangan. Hampir setiap warga — dari pelajar, pekerja kantoran, hingga orang tua — punya pengalaman tersendiri dengan jajanan satu ini.
Antara Gilingan Ayam dan Tepung Kanji
Salome dan pentol umumnya terbuat dari campuran daging ayam giling, tepung tapioka (kanji), dan sedikit bumbu penyedap. Adonannya dibentuk bulat, direbus hingga matang, lalu disajikan dalam tusukan atau mangkuk kecil.
Yang membuatnya spesial adalah saus pelengkap. Ada yang memilih bumbu kacang, mirip seperti bumbu siomay. Namun yang lebih digemari justru saus pedas manis yang membakar lidah, terkadang dicampur sedikit cuka agar lebih segar.
“Yang penting itu bumbunya. Kalau bumbunya mantap, walau pentolnya sederhana, tetap laris,” ujar Pak Mardi (41), pedagang pentol keliling di Samarinda yang sudah 10 tahun berjualan.
Jajanan Rakyat, Harga Merakyat
Satu tusuk pentol bisa dibeli dengan harga mulai dari Rp1.000 hingga Rp2.000 saja. Versi mangkuk isi campur biasanya dijual Rp5.000 hingga Rp10.000 tergantung porsi dan topping. Murah, mengenyangkan, dan cepat disajikan—tiga alasan utama mengapa pentol begitu digandrungi.
Di Kota Balikpapan, titik-titik keramaian seperti Lapangan Merdeka, Terminal Batu Ampar, dan depan sekolah-sekolah selalu menjadi ladang emas bagi para pedagang pentol. Bahkan kini, pentol mulai masuk ke pasar digital lewat layanan pesan antar makanan online.
“Sekarang sudah beda. Dulu hanya keliling, sekarang banyak yang jual di kios kecil atau via GoFood,” kata Rina (27), pelanggan setia pentol di kawasan Sepinggan. “Tapi rasanya tetap sama, bikin nagih.”
Lebih dari Sekadar Jajanan
Bagi banyak warga Kaltim, pentol punya makna lebih dalam. Ia bukan hanya soal rasa, tapi tentang momen-momen kecil yang menghangatkan. Tentang masa sekolah, jajan bareng teman sepulang les, atau sekadar pengganjal lapar sebelum makan malam.
Ada pula yang melihat pentol sebagai simbol kegigihan UMKM lokal. Banyak keluarga menggantungkan hidup dari usaha kecil ini, mulai dari produksi hingga penjualan keliling.
“Saya dan suami sama-sama jualan pentol. Tiap pagi bikin adonan, siang keliling. Alhamdulillah bisa nyekolahin anak,” ujar Bu Lilis, pedagang di Kutai Kartanegara.
Budaya Jajanan yang Tak Pernah Usang
Meski zaman berubah, jajanan seperti pentol dan salome tetap bertahan. Di tengah maraknya makanan cepat saji dari luar negeri, pentol membuktikan diri bahwa sederhana tidak berarti kalah pamor.
Bahkan di media sosial, tren mencoba pentol super pedas atau “salome lava” tengah viral. Remaja merekam ekspresi mereka saat “tersiksa nikmat” oleh bumbu yang membakar lidah. Dari gerobak ke TikTok, dari jalanan ke layar ponsel—pentol terus hidup mengikuti zaman.
Pentol bukan cuma soal bulatan tepung dan daging. Ia adalah potret budaya, rasa, dan kerakyatan. Dan di Kalimantan Timur, setiap tusuknya menyimpan cerita yang tak pernah selesai ditulis. (ede)








