Samarinda — Kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Kalimantan Timur terus menunjukkan tren peningkatan yang mengkhawatirkan, terutama di dua pusat aktivitas ekonomi dan urban: Samarinda dan Balikpapan. Data dari Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur periode Januari–Juli 2025 mengungkap bahwa Samarinda mencatat 209 kasus baru, disusul Balikpapan dengan 167 kasus.
Sebaran Kasus di Daerah Lain:
– Bontang: 40 kasus
– Kutai Kartanegara: 31 kasus
– Paser: 21 kasus
– Berau: 11 kasus
– Penajam Paser Utara: 10 kasus
– Kutai Barat: 5 kasus
– Mahakam Ulu: 1 kasus
Data tambahan dari awal September 2025 mengungkap bahwa di Samarinda, telah terdeteksi 223 kasus baru HIV hingga awal bulan tersebut, berdasarkan hasil skrining terhadap sekitar 20 ribu warga.
Dinkes Kota Samarinda juga melaporkan bahwa 63 pasien HIV/AIDS meninggal hingga awal September.
Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji, menegaskan pentingnya kewaspadaan kolektif.
“Kami sudah meminta seluruh direktur rumah sakit di Kaltim untuk benar-benar memperhatikan peningkatan kasus HIV ini. Pemeriksaan harus ketat dan pelayanan harus cepat,” ucapnya, Rabu (10/9/2025).
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, dr. Jaya Mulyawan, menyebutkan perlunya partisipasi masyarakat. “Penanggulangan HIV tidak bisa hanya mengandalkan tenaga medis. Masyarakat harus lebih terbuka melakukan tes dini dan tidak takut terhadap stigma,” ungkapnya.
Kaltim kini menghadapi situasi di mana Samarinda dan Balikpapan adalah titik episentrum penyebaran HIV di tahun 2025, dengan angka yang terus naik. Pemerintah provinsi berharap bahwa kombinasi strategi medis (deteksi dini, pelayanan pengobatan) dan non-medis (edukasi masyarakat, pengurangan stigma) dapat menahan laju peningkatan ini serta menyelamatkan lebih banyak nyawa. (ek)












