Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Catatan

Senyum dari Ruang Akasia

58
×

Senyum dari Ruang Akasia

Sebarkan artikel ini

Catatan : Azhari Hafid

Senyum itu tidak dibuat-buat.
Tulus. Mengalir dari hati yang tak menyangka.
Namanya Novita—penjaga Gereja GPdI El-Shaddai di Kabo Jaya, Sangatta Utara.

Example 300x600

Hari itu, Minggu 13 Juli 2025, ia berdiri di Ruang Akasia, Gedung Serbaguna Kantor Bupati Kutai Timur. Bersama ratusan wajah lain yang tak kalah bersinar. Mereka para marbut—penjaga rumah ibadah, dan para guru PAUD dan TK swasta, yang seringkali bekerja dalam senyap.

Tak banyak yang tahu nama mereka. Tapi hari itu, negara menyebut mereka satu per satu. Memberi sesuatu. Bukan sekadar insentif. Tapi bentuk pengakuan. Sebuah penghargaan kecil—yang terasa sangat besar di hati mereka.

Novita tidak bisa menyembunyikan rasa harunya. Matanya berkaca-kaca. Di tangannya, tiket bantuan bernama Gratispol, sebuah penghargaan berupa perjalanan ibadah. Ia akan pergi ke Yerusalem.

“Bahagia banget. Bahagia sekali,” katanya sambil tersenyum, menatap ke depan seperti membayangkan perjalanan spiritual yang selama ini hanya ada dalam doa.
“Terima kasih Pak Gubernur. Semoga perang di Palestina dan Israel segera berakhir agar saya bisa berangkat.”

Di sampingnya, ada Avila Natasha, guru PAUD Rhema Sion dari Sangatta Baru. Ia tak kalah terharu. Bantuan itu, menurutnya, lebih dari cukup.

“Senang banget. Kami ucapkan terima kasih kepada Bapak Gubernur. Harapannya ke depan insentifnya bisa lebih besar.”

Dua guru TK Al Falah, Chaula Kurnia Adha dan Hanna Nur Salsabila, juga tak luput dari bantuan. Jospol namanya. Nilainya Rp500 ribu per bulan.
Bagi sebagian orang, mungkin ini tak seberapa. Tapi bagi mereka, tambahan itu bisa berarti isi dapur, ongkos jalan, bahkan bayaran kuota untuk belajar daring.
“Kami sangat bersyukur dan berterima kasih karena Pak Gubernur sudah memberi perhatian kepada kami, guru TK swasta,” ucap Chaula.

Di tengah acara, Gubernur Kaltim Dr H Rudy Mas’ud pun berdiri di podium.
Suaranya tegas, tapi nadanya tenang.
“Pemerintah hadir bukan hanya membangun fisik, tapi juga memperkuat keadilan sosial dan nilai-nilai kemanusiaan,” ujarnya.

Ia sadar, pembangunan bukan melulu soal jalan dan gedung megah. Tapi juga tentang mereka yang selama ini dipinggirkan dalam diam. Program “Gaspol Harum” merujuk pada program-program yang dijalankan oleh Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, yang disimbolkan dengan “Harum” dan “Gaspol”. 

Program ini bertujuan untuk percepatan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Kalimantan Timur, dengan fokus pada program “Gratispol” yang mencakup pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan dasar lainnya secara gratis. 


“Setiap pengabdian, sekecil apa pun, layak mendapat penghargaan,” katanya lagi, menegaskan komitmen bersama Wakil Gubernur Seno Aji.

Hari itu, bukan hanya marbut dan guru yang pulang dengan hati hangat.
Pemerintah juga menyalurkan bantuan untuk lembaga kesehatan sosial, pelaku usaha mikro, dan komunitas akar rumput lainnya.
Karena kesejahteraan, bagi mereka, bukan proyek sekali jadi. Tapi perjalanan panjang menuju keadilan yang merata.

Acara berlangsung hangat. Dihadiri oleh banyak nama penting.

Tapi sorotan hari itu bukan untuk para pejabat.
Sorotan itu jatuh pada mereka yang biasa kita lupakan.
Pada para marbut, dan guru-guru kecil…
Yang pengabdiannya mungkin kecil di mata statistik,
Tapi besar di mata langit.