Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Kaltim

Cuaca Kaltim 20 September: BMKG Ingatkan Curah Hujan Rendah, Karhutla Masih Jadi Perhatian

6
×

Cuaca Kaltim 20 September: BMKG Ingatkan Curah Hujan Rendah, Karhutla Masih Jadi Perhatian

Sebarkan artikel ini
Sumber gambar: Pemprov Kaltim/BMKG, diolah ringan untuk kebutuhan editorial.

Lamdak.co, Samarinda — Cuaca Kaltim 20 September 2026 masih perlu dipantau, terutama karena BMKG sebelumnya memprakirakan sebagian besar wilayah Kalimantan Timur mengalami curah hujan rendah hingga akhir dasarian kedua September.

Informasi dari Pemprov Kaltim menyebut prakiraan itu bersumber dari BMKG Stasiun Meteorologi APT Pranoto Samarinda. Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III APT Pranoto Samarinda, Riza Arian Noor, menjelaskan bahwa wilayah Kaltim secara umum diprediksi berada pada kisaran hujan rendah.

Example 300x600

“Curah hujan kategori rendah, yakni 0-20 mm,” ungkap Riza dalam keterangan resminya.

Cuaca Kaltim 20 September dan kewaspadaan karhutla

Periode prakiraan tersebut berlaku 11–20 September 2026. BMKG juga mencatat sifat hujan di Kaltim pada dasarian II September didominasi kategori bawah normal. Kondisi hari tanpa hujan bervariasi, dengan catatan terpanjang berada di Batu Enggau, Paser, selama 49 hari berturut-turut.

Situasi ini beririsan dengan kewaspadaan kebakaran hutan dan lahan. Pada laman resmi BPBD Kaltim yang diakses Minggu (20/9/2026), status wilayah tercatat siaga. BPBD juga menampilkan statistik 2026 dengan karhutla lahan sebagai jenis kejadian terbesar, disusul kebakaran gedung dan pemukiman serta karhutla hutan.

Daerah diminta tetap memantau perubahan cuaca

Bagi warga Samarinda, Balikpapan, Kukar, Paser, dan daerah lain di Kaltim, informasi cuaca harian tetap penting karena cuaca lokal dapat berubah cepat. Warga disarankan mengecek pembaruan BMKG, menghindari pembakaran lahan, dan segera melapor ke kanal kedaruratan jika menemukan titik api atau asap pekat.

Dengan curah hujan yang masih rendah, pengawasan lingkungan, kesiapsiagaan warga, dan respons cepat petugas menjadi kunci agar risiko asap maupun kebakaran tidak meluas.