Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Bisnis

Inflasi Balikpapan Naik 0,27 Persen, PPU Deflasi Jelang Musim Kemarau

22
×

Inflasi Balikpapan Naik 0,27 Persen, PPU Deflasi Jelang Musim Kemarau

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi inflasi Balikpapan naik 0,27 persen dan PPU deflasi 0,06 persen pada Mei 2026.
Ilustrasi pergerakan inflasi Balikpapan dan deflasi PPU pada Mei 2026.

Balikpapan mencatat inflasi 0,27 persen secara bulanan pada Mei 2026, sementara Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) justru mengalami deflasi 0,06 persen. Pergerakan berbeda di dua daerah penyangga IKN ini muncul di tengah persiapan menghadapi musim kemarau dan kenaikan biaya transportasi serta logistik.

Data terbaru yang dihimpun dari laporan ekonomi daerah menunjukkan inflasi Balikpapan terutama didorong kelompok transportasi, khususnya tarif angkutan udara setelah penyesuaian fuel surcharge domestik. Di sisi lain, PPU mendapat tekanan harga yang lebih rendah karena beberapa komoditas pangan seperti daging ayam ras, ikan tongkol, cabai rawit, udang basah, dan tomat mengalami penurunan.

Example 300x600

Secara tahunan, inflasi Balikpapan berada di level 2,75 persen year on year (yoy), sedangkan PPU tercatat 2,33 persen yoy. Keduanya masih berada dalam kisaran sasaran inflasi nasional 2026 sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen.

Apa Pemicu Inflasi Balikpapan pada Mei 2026?

Kenaikan harga di Balikpapan tidak hanya datang dari tiket pesawat. Sejumlah komoditas lain seperti solar, pelumas kendaraan, beras premium, dan roti manis juga ikut mendorong inflasi. Tekanan itu berkaitan dengan naiknya harga energi, ongkos distribusi, dan keterbatasan pasokan beras premium saat permintaan masih tinggi.

Meski demikian, tidak semua harga bergerak naik. Bahan bakar rumah tangga, kangkung, emas perhiasan, daging ayam ras, dan tomat tercatat menahan laju inflasi agar tidak bergerak lebih tinggi. Pola ini memperlihatkan bahwa pasar Balikpapan masih ditopang pasokan yang relatif terjaga, meski biaya mobilitas warga sedang meningkat.

Isu harga pangan dan biaya hidup di kawasan penyangga IKN sebelumnya juga beberapa kali jadi perhatian, seperti ketika pasokan beras sempat terganggu di Balikpapan dan Penajam. Pada saat yang sama, geliat ekonomi kota juga terus bergerak seiring dampak proyek strategis, termasuk pada sektor jasa dan akomodasi yang ikut terdorong oleh aktivitas IKN dan industri penunjang di Balikpapan.

Mengapa PPU Justru Mengalami Deflasi?

Berbeda dari Balikpapan, PPU mencatat penurunan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Koreksi harga ayam ras, ikan tongkol, cabai rawit, udang basah, serta tomat menjadi penahan utama tekanan inflasi di daerah tersebut.

Namun, kondisi itu belum sepenuhnya aman. Beras, buncis, solar, sawi hijau, dan sigaret kretek mesin masih memberi tekanan di PPU. Artinya, deflasi yang terjadi lebih mencerminkan pelemahan pada beberapa komoditas tertentu, bukan hilangnya risiko kenaikan harga secara menyeluruh.

Dalam keterangan yang dikutip dari laporan ekonomi daerah, Bank Indonesia Balikpapan menilai stabilitas harga di Balikpapan dan PPU tetap terjaga berkat ketersediaan pasokan pangan strategis, penguatan ketahanan pangan, serta koordinasi pengendalian inflasi oleh TPID.

BI Balikpapan juga menegaskan, “inflasi di Balikpapan dan PPU akan tetap terjaga dalam sasaran inflasi nasional 2026 sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen.” Pernyataan itu menjadi sinyal bahwa tekanan harga masih dipandang terkendali, meski risiko cuaca dan biaya transportasi belum sepenuhnya reda.

Musim Kemarau Jadi Ujian Berikutnya

Tantangan berikutnya datang dari musim kemarau yang diperkirakan berlangsung pada Juni hingga Juli 2026. Cuaca kering berpotensi mengganggu produksi pertanian lokal dan distribusi pasokan dari Pulau Jawa, yang masih menjadi salah satu penopang kebutuhan pangan di Kalimantan Timur.

Karena itu, koordinasi antara BI, TPID Balikpapan, PPU, dan Paser diperkirakan akan makin penting dalam beberapa pekan ke depan. Opsi pengendalian seperti operasi pasar, Gerakan Pangan Murah, kerja sama antardaerah, hingga penguatan urban farming akan menjadi penopang agar inflasi tidak melampaui target.

Dengan tekanan transportasi masih tinggi dan cuaca mulai berubah, arah inflasi di Balikpapan serta PPU akan menjadi indikator penting bagi daya beli masyarakat di kawasan penyangga IKN sepanjang pertengahan tahun ini. Untuk konteks sumber, pembaca dapat melihat laporan awal mengenai inflasi Balikpapan dan PPU.