Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
BisnisKaltim

Harga Sawit Anjlok di PPU, Petani Mengadu ke Pemkab

12
×

Harga Sawit Anjlok di PPU, Petani Mengadu ke Pemkab

Sebarkan artikel ini
Perkebunan kelapa sawit di Indonesia — ilustrasi harga TBS sawit anjlok di Penajam Paser Utara
Ilustrasi perkebunan kelapa sawit. Harga TBS sawit di Penajam Paser Utara anjlok dari Rp3.500 ke Rp1.750 per kilogram. Foto: Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

PENAJAM — Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mengalami penurunan drastis, membuat para petani di wilayah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN) itu semakin resah.

Kondisi tersebut mendorong Dewan Pengurus Daerah Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (DPD APKASINDO) PPU mendatangi Kantor Bupati PPU pada Kamis (28/5/2026) untuk menyampaikan langsung keluhan para petani.

Example 300x600

Audiensi itu diterima oleh Staf Ahli Bidang Pemerintahan, Hukum dan Politik Alimuddin, Staf Ahli Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan Margono Hadi Sutanto, serta Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia Sodikin.

Ketua DPD APKASINDO PPU Aribianto mengungkapkan, turunnya harga TBS berdampak langsung terhadap pendapatan petani sawit di daerah tersebut.

“Petani sekarang sangat merasakan dampaknya. Harga turun cukup jauh dan ini berpengaruh terhadap penghasilan mereka sehari-hari,” ujarnya.

Sebelumnya, harga TBS sawit di PPU sempat berada di kisaran Rp3.400 hingga Rp3.500 per kilogram. Namun saat ini nilainya sudah merosot ke angka Rp1.750 hingga Rp2.500 per kilogram.

Menurut Aribianto, kondisi serupa juga terjadi di sejumlah wilayah lain di Indonesia. Ia berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah agar harga tidak terus merosot dan petani tidak mengalami kerugian berkepanjangan.

Pemkab PPU Akan Panggil Perusahaan

Menanggapi keluhan petani, Alimuddin menyebut persoalan harga sawit sebenarnya sudah lebih dulu dibahas di internal pemerintah daerah. Salah satu langkah yang akan dilakukan dalam waktu dekat adalah memanggil pihak perusahaan untuk meminta penjelasan terkait penurunan harga.

“Kita ingin mendengar langsung dari perusahaan, apa faktor yang menyebabkan harga sawit turun. Dari situ baru bisa ditentukan langkah yang tepat,” kata Alimuddin.

Sementara itu, Margono Hadi Sutanto mengatakan pemerintah daerah tengah menyiapkan telaahan staf yang nantinya akan disampaikan kepada Bupati PPU sebagai bahan pertimbangan kebijakan.

“Semua masukan dari APKASINDO akan kami tampung dalam telaahan staf. Harapannya, solusi yang disusun benar-benar sesuai dengan kondisi yang dihadapi petani sawit di PPU,” jelas Margono.

Ia menambahkan, masukan dari para petani akan dimasukkan dalam kajian tersebut, termasuk kemungkinan rekomendasi terkait regulasi daerah maupun usulan kebijakan ke pemerintah pusat.

Dampak ke Ekonomi Petani dan Solusi Jangka Panjang

Anjloknya harga sawit ini berdampak langsung pada ribuan petani di PPU yang menggantungkan hidup dari komoditas tersebut. Sebagai wilayah penyangga IKN, Penajam Paser Utara memiliki posisi strategis dalam peta ekonomi Kalimantan Timur, termasuk di sektor perkebunan yang menjadi salah satu tumpuan pendapatan daerah.

Langkah Pemkab PPU untuk segera memanggil perusahaan diharapkan dapat membuka jalan bagi stabilisasi harga di tingkat petani. Sementara itu, investasi besar seperti yang dilakukan investor China senilai Rp5,2 triliun di kawasan IKN menunjukkan bahwa geliat ekonomi di sekitar ibu kota baru terus berkembang — namun petani kecil masih memerlukan perhatian serius agar tidak semakin tertinggal.

Sebagaimana dilaporkan TribunKaltim, harga sawit yang anjlok hingga 50 persen ini memerlukan intervensi kebijakan yang lebih terstruktur, baik dari pemerintah kabupaten maupun provinsi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *