Samarinda — Karhutla di kawasan Betapus, Samarinda, berhasil dikendalikan setelah tim gabungan BPBD, TNI, Polri, dan relawan memadamkan api seluas 20,5 hektare. Kepala BPBD Samarinda Suwarso mengatakan api selesai dipadamkan sekitar pukul 21.00 WITA pada Minggu malam setelah pengepungan dilakukan dari beberapa sisi.
“Bersyukurnya kita teman-teman relawan pemadam kebakaran mengepung dari beberapa sisi, sehingga sekitar pukul 21.00 WITA api selesai dipadamkan,” kata Suwarso.
Udara Kaltim ikut memburuk
Meski titik api di Betapus sudah padam, dampak asap masih terasa. Laporan Harian Posko Siaga Darurat Bencana Karhutla Kaltim per 6 September 2026 mencatat ISPU untuk PM2.5 sudah masuk kategori tidak sehat. Di seluruh Kaltim, tercatat 657 hotspot dan 23 firespot, dengan Paser 9 titik api aktif dan Samarinda 5 titik.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Kalimantan Timur, Buyung Dodi Gunawan, menegaskan kondisi cuaca kering membuat lahan makin rawan terbakar. “Ancaman kekeringan dan bencana karhutla ini masih terjadi karena kondisi cuaca dan curah hujan yang sangat minim, sehingga lahan rawan terbakar dan asapnya mengganggu,” ujarnya.
BPBD Kaltim juga menyebut koordinasi dengan BNPB terus berjalan untuk dukungan water bombing dan pemantauan titik rawan. Di lapangan, alat ukur kualitas udara portabel dipasang di Bantuas, Makroman, dan Betapus, sementara masker dibagikan kepada warga sekitar.
Dampak kesehatan mulai terasa
Dampak kabut asap juga berkelindan dengan kesehatan warga. Dalam laporan Lamdak sebelumnya, kasus ISPA di Samarinda naik 22,8 persen dan dikaitkan dengan kabut asap karhutla. Baca laporannya di Kasus ISPA di Samarinda Naik 22,8 Persen.
Untuk konteks resmi, pembaca bisa memantau pembaruan dari Diskominfo Kaltimprov dan kanal BPBD Kaltim. Warga diimbau tetap memakai masker, membatasi aktivitas luar ruangan, dan melapor jika melihat titik api baru.








