KALIMANTAN TIMUR – Pemerintah menyiapkan pembangunan pusat hilirisasi petrokimia berbahan baku gas di Kalimantan Timur. Rencana hilirisasi petrokimia Kaltim itu disampaikan Menteri ESDM sekaligus Menko Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia pada Kamis, 22 Oktober 2026.
Bahlil menyampaikan rencana tersebut saat peresmian penerimaan gas dari sumur Jangkrik North East 6 (JNE-6) dan fasilitas produksi Lapangan Maha-South Hub di Kalimantan Timur.
“Kita akan membangun pusat hilirisasi petrochemical di Kalimantan Timur dengan mempergunakan bahan baku dari gas,” kata Bahlil.
Tambahan produksi gas Jangkrik mencapai 290 MMSCFD
Tambahan produksi dari JNE-6 disebut mencapai 290 juta kaki kubik standar per hari atau MMSCFD. Pemerintah menargetkan produksi gas nasional meningkat hingga 3.000 MMSCFD pada 2028–2029, dari sekitar 750 MMSCFD saat ini.
Menurut Bahlil, pembangunan industri hilir di daerah penghasil diharapkan menciptakan lapangan kerja, meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, menambah penerimaan negara bukan pajak, serta mendorong pendapatan masyarakat dan pemerintah daerah.
Hilirisasi petrokimia Kaltim diarahkan ke daerah penghasil
Bahlil mengatakan hilirisasi tidak boleh hanya terpusat di Jakarta. Daerah penghasil gas perlu memperoleh manfaat ekonomi lebih besar dari sumber daya alam yang dikelola.
“Dengan kita menciptakan hilirisasi di daerah, itu berarti menciptakan lapangan pekerjaan di daerah, menciptakan nilai tambah di daerah, meningkatkan PNBP daerah, meningkatkan pendapatan bagi masyarakat dan daerah,” ujarnya.
Rencana tersebut masih memerlukan tindak lanjut teknis, termasuk penetapan lokasi, skema investasi, jadwal pembangunan, dan pembagian pasokan gas untuk kebutuhan industri domestik. Informasi ini menjadi bagian dari berita ekonomi Lamdak dan merujuk pada laporan DetikFinance.








